Rabu, 01 Mei 2013

                                                         MAKALAH
             DASAR-DASAR PENDIDIKAN
                      ( Kebutuhan dan Pengembangan Dimensi Kepribadian Manusia )

            Dibuat Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah  Dasar-dasar Pendidikan
                                              DosenPengampu : Kiswan,s.ag., M.Pd.



                                                                       Disusun Oleh :
                                                                        Sri Robiyanti





                                FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN  GURU  MADRASAH  IBTIDAIYAH  (PGMI)
       INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM (IAID)
                                 CIAMIS JAWA BARAT





                  KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penyusun panjatkan ke hadirat Alloh SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Kebutuhan dan Pengembangan Dimensi Kepribadian Manusia” Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah DASAR-DASAR PENDIDIKAN
Penyusun  menyadari bahwa makalah ini tidak mungkin terselesaikan tanpa dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Berkat dorongan dan bimbingan tersebut, semua rintangan dan hambatan tersebut dapat penyusun atasi. Pada kesempatan ini kami ucapkan terima kasih kepada  Bapak Kiswan,S.ag.,M.Pd. selaku dosen mata kuliah dasar dasar pendidikan.
Dengan segala kerendahan hati penyusun mengakui makalah ini masih jauh dari sempurna, karena pengetahuan, kemampuan dan pengalaman penyusun yang masih sangat terbatas. Oleh karena itu, apabila ada saran dan kritik dari semua pihak akan  diterima dengan tangan terbuka untuk perbaikan  makalah ini di masa mendatang.



                               BAB I
                       PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Manusia memiliki kedudukan yang paling tinggi diantara ciptaan Tuhan lainnya. Dengan kekuatan dan keterbatasannya, manusia dapat berbuat apa saja atas dirinya sendiri maupun lingkungannya. Potensi manusia seperti itu secara mendasar telah dimiliki manusia sejak dari awal penciptaannya. Dalam kondisi keberadaan manusia yang dilandasi oleh tujuan penciptaannya, manusia berkembang dan memperkembangkan diri mengukir budaya yang semakin tinggi dan modern, serta mengejar kebahagiaan yang dicitakannya.
Manusia adalah mahluk Tuhan yang paling sempurna yang memiliki ciri khas yang secara prinsipiil bereda dari hewan. Ciri khas manusia yang membedakan dengan hewan ialah hakikat manusia. Disebut hakikat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki manusia dan tidak dimiliki hewan. Dengan pemahaman yang jelas tentang hakikat manusia maka seorang pendidik diharapan dapat membuat peta karakteristik manusia, sebagai acuan baginya dalam bersikap, menyusun strategi, metode, dan teknik.
1.2    Rumusan Masalah
1.    Apa saja kebutuhan manusia yang bersifat fisik?
2.    Apa saja kebutuhan manusia yang bersifat psikis?
3.    Bagaimana kebutuhan terhadap agama?
4.    Bagaimana penjelasan tentang Pengembangan  kepribadian manusia?

1.2    Tujuan
1.    Pembukuan makalah ini kami bertujuan untuk mengkaji lebih spesifik mengenai kebutuhan dan pengembangan dimensi kepribadian manusia
2.    Sebagai pemenuhan tugas terstruktur mata kuliah dasar-dasar pendidikan





                              BAB II
                        PEMBAHASAN

2.1    Kebutuhan Hidup Yang Bersifat Fisik
    Kesadaran diri dapat dirasakan dan gejalanya dapat dimanifestasikan dalam bentuk sikap dan perbuatan fisik walaupun kesadaran itu bersifat  psikis. Hal demikian menunjukan bahwa anda masih eksis dan masih hidup. Kehidupan anda tidak serta merta eksis tanpa fungsi yang berguna dari berbagai organ-organ tubuh anda. Disfungsi dari semua atau sebagian organ tubuh akan menekan kehidupan anda sampai anda tidak hidup lagi.
    Untuk mempertahankan kehidupan anda  diperlukan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup primer. Kebutuhan primer adalah kebutuhan hidup yang tidak boleh tidak, harus ada dan tersedia.bilamana kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka keberlangsungan kehidupan akan terganggu. Kebutuhan primer yang berupa nutrisi, oksigen dan asupan lain sebagainya harus selalu tersedia. Dalam nutrisi yang anda konsumsi terdapat banyak bahan yang dapat menunjang keberlangsungan hidup. Seperti :
•    Karbohidrat, untuk pembakaran di dalam tubuh
•    Protein, sebagai bahan pembangun sel-sel tubuh yang sudah rusak
•    Vitamin, sebagai benteng pertahanan dari serangan berbagai bakteri maupun virus penyakit
•    Oksigen, sebagai komponen lain dalam pembakaran dalam tubuh.
Asupan sebagaimana tersebut diatas harus proporsional dengan kebutuhan tubuh, supaya dapat meningkatkan daya tahan, vitalitas, perkembangan tubuh. Tubuh yang mendapatkan asupan yang cukup dan proporsional akan meningkatkan kesehatan. Semakin sehat seseorang, maka semakin meningkat vitalisnya. Implikasinya adalah turut meningkatkan kebutuhan yang lain yang bersifat sekunder.
Fungsi-fungsi tubuh dan organ-organ yang dapat berkembang secara baik akan menunjang  dan mempermudah manusia dalam melakukan aktivitasnya. Manusia yang dapat melakukan aktivitas secara maksimal dan optimal memberikan kontribusi bagi pemenuhan kehidupannya baik secara pisik maupun psikis. Sebagaimana disebutkan diatas, bahwa manusia minimal memerlukan makan dan minum. Manusia memerlukan keterampilan mencari dan mengolah makanan dan minuman. Ada pula lingkungan yang sangat mendukung terhadap kehidupan manusia tetapi ada juga lingkungan yang kurang mendukung kehidupannya, seperti bencana alam.
Secara spesifik ada kebutuhan khusus yang berbeda antara laki-laki dan perempuan terkait dengan perbedaan biologik yang bersifat kodarti yaitu perbedaan organ-organ reproduksi yang harus menjadi perhatian utama. Misalnya membuahi dan perempuan mengalami haid, hamil, melahirkan anak, dan menyusui. Tentu saja laki-laki dan perempuan memiliki kebutuhan yang berbeda yang disebut dengan kebutuhan gender praktis.
2.2    Kebutuhan Hidup Yang Bersifat Psikis
    Anda mungkin pernah mengalami, atau paling tidak pernah menyaksikan orang yang murung ketika ia menghadapi malapetaka yang mengancam jiwanya, atau paling tidak orang yang gagal dalam suatu usaha, seperti tidak lulus dalam suatu ujian sekolah, atau sebaliknya. Anda barangkali pernah mengalami atau menyaksikan orang yang bersorak sorai sebagai tanda kegembiraannya ketika seseorang sukses dalam suatu usaha. Orang demikian menunjukan kebebasan dirinya dari beban yang menekan. Beban yang menekan dirinya akan menyebabkan ia menjadi stres atau depresi. Hal ini tidak ubahnya seperti orang  yang kekurangan nutrisi sebagai kebutuhan primernya, yaitu mengalami sakit.
Aspek psikis memerlukan pendidikan dan pembinaan sebagaimana mestinya sesuai dengan sifat dan karakteristiknya. Seseorang yang melupakan pendidikan dan pembinaannya, maka perkembangan dan pertumbuhan kepribadiannya dapat dipastikan menyalahi hakikat dan kodrat hidupnya. Aspek ini berasal dari alam spiritual, bahkan cenderung kembali ke asalnya bila ia bersih dan suci. Penyucian dapat berupa konsentrasi dalam dzikir, shalat dan ibadah lainnya.
     Aspek psikis mempunyai kemampuan yang diperoleh dari alam bentuk, dan dari dunia materi. Ia dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman melalui dzawq(cita rasa hati), disamping dari penalaran dan pengalaman empirik(penginderaan).
    Secara psikis seseorang memenuhi pembinaan guna pengembangan aspek psikisnya. Seperti pengembangan berpikir, mengingat, berfantasi, menangkap, mengamati, memperhatikan, dan lain sebagainya. Kebutuhan itu seharusnya dapat dipenuhi sedemikian rupa agar ia dapat menikmati hidup dan dalam rangka menciptakan kondisi manusia yang sehat jasmani dan rohani. Kebutuhan psikis dapat disebutkan sebagai berikut :
•    Rasa aman
Seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, memerlukan atau yang memiliki perbedaan sosial, sama-sama memerlukan rasa aman dari berbagai ancaman yang bersifat menekan. Seseorang yang merasa tidak aman dari ancaman sesuatu menyebabkan ia gelisah, susah bahkan putus asa. Perasaan aman bisa timbul karena orang yang mempunyai pertahanan diri yang tangguh dan dapat mengatasi segala rintangan yang bersifat menekan dirinya. Disamping itu, adanya perlindungan dari pihak lain yang bertanggungjawab atau dari pihak yang mempunyai otoritas untuk itu, seperti negara dengan segenap aparat keamanannya, atau orang tua bagi anak kecil dapat menghindarkan seseorang dari kecemasan dan rasa tidak aman.

•    Penghargaan
Seseorang dengan ragam perbedaan sosial maupun jenis kelamin sama-sama memerlukan penghargaan dari pihak lain, terutama terhadap prestasi-prestasi yang pernah dicapainya. Apresiasi dari orang lain menimbulkan dan meningkatkan rasa percaya diri pada seseorang untuk berbuat lagi, baik perbuatan yang serupa atau perbuatan lain, karena ia mendapatkan kebebasan berkreasi dan optimisme yang tinggi. Orang yang tidak pernah mendapat penghargaan dari pihak lain bisa jadi menekan dirinya, pesimis dan bahkan putus asa. Namun demikian, orang yang mendapatkan apresiasi yang terlalu tinggi dari pihak lain boleh jadi ia bisa congkak atau sombong, karena terlalu percaya diri.
•    Aktualisasi Diri
Seseorang dengan ragam perbedaan sosial maupun jenis kelamin sama-sama mempunyai kemauan, keinginan, dan cita-cita. Semua orang berharap agar kemauan, keinginan, dan cita-cita dapat dicapai. Hal demikian adalah wajar pada setiap orang apabila keinginannya dapat dicapai secara baik akan menimbulkan rasa kepuasan dan percaya diri. Untuk mencapai keinginannya itu seseorang selalu melakukan kegiatan yang menunjang pencapai keinginan itu. Orang yang dapat melakukan demikian adalah orang dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh sehingga kebutuhannya dapat dipenuhi.
2.3    Kebutuhan Terhadap Agama
    Secara naluriah, sebagaimana disebutkan diatas, manusia dilahirkan untuk mengakui dzat yang dianggap mengatasi dirinya(the wholy others). Manusia hidup dan dilimpahi dengan berbagai kesuksesan. Tetapi dipihak lain adalagi yang mengalami banyak kendala dan hambatan dalam hidupnya. Akhirnya, akan sadar bahwa sukses yang diperoleh maupun musibah yang menimpa dirinya bukan semata atas kehendak dan diluar kekuasaan dirinya. Semua program yang ia jalankan tidak selamanya sesuai dengan rencanya. Ketika seseorang melihat penyimpangan dari pola-pola perencanaan yang ia programkan, akan menyadarkan  diri atas kekuasaan yang berada diluar dirinya. Kesadaran semacam ini yang akan menuntun seseorang untuk mempercayai dzat yang maha kuasa. Hal demikian yang menjadi dasar keimanan seseorang untuk memeluk atau mempercayai suatu agama. Ketika seseorang telah mempercayai suatu agama, maka ia mendapatkan kepuasan terhadap doktrin-doktrin agamanya ketika ia merasakan perlindungan agama terhadap dirinya, baik untuk kehidupan di dunia ini apalagi kehidupan di akhirat nanti. Sebagaimana anda rasakan ketika selesai melaksanakan kewajiban agama, apabila memang dihayati secara benar, anda merasakan suatu pengalaman keagamaan. Pengalaman agama yang dicapai dalam shalat dan do’a misalnya, telah membimbing seseorang untuk merasakan ketentraman ba’tin bahwa dirinya berada dalam naungan kekuasaan-Nya. Hal semacam ini yang menimbulkan kerinduan yang menyebabkan seseorang untuk selalu melaksanakan ajaran agamanya secara continue. Dengan demikian, semua manusia dengan berbagai starata sosial dan perbedaan sosial maupun perbedaan jenis kelamin sama-sama membutuhkan kehadiran agama untuk membimbing kehidupan mereka. Allah pun tidak memendang manusia dari aspek perbedaan tersebut, tetapi memandang dari perbedaan ketaqwaannya.
2.4    Pengembangan  Kepribadian Manusia
    Manusia dengan ragam perbedaan sosial maupun jenis kelamin tidak semata-mata hidup, tetapi juga berpenghidupan. Untuk menjaga dan meningkatkan kualitas hidup dan penghidupannya manusia selalu berusaha dan berupaya untuk mencari jalan agar selalu berkembang. Kehidupan duniawi tempat seseorang memulai dan melaksanakan karirnya memberikan kebebasan dan hak kepadanya untuk mewujudkan keinginannya dan memperoleh cita-citanya, dengan mengembangkan hidup, kehidupan, dan semua peradabannya, demi kelangsungan hidupnya dan kariernya.
    Aspek fisik mempunyai peran yang sangat penting dalam mengantarkan seseorang mencapai tujuan yang diinginkannya. Dalam hubungannya dengan alam yang memang dipersiapkan untuk kehidupannya di dunia ini, seseorang tidak harus bersifat fatalis dalam menghadapinya. Mengembangkan aspek fisik dan material sudah tersurat maupun tersirat dalam pandangan hidup manusia, dan sebagai pemenuhan kewajiban legal formal dan kewajiban moral bagi seseorang yang meniti karier kehidupannya di dunia ini. Seseorang perlu belajar dari pengalamannya sendiri dan pengalaman orang lain, dan mensinergikan berbagai pengalaman itu untuk mendapatkan legitimasinya dan membuat formulasinya yang tepat, efektif dan efisien untuk mencapai kehidupan yang sempurna. Tanpa akselerasi kehidupan duniawi, maka kehidupannya akan stagnan, dilampaui oleh pihak lain, karena ia tidak mempergunakan pikiran genius dan kreatifnya untuk mengembangkannya supaya tidak tertinggal. Dalam ketertinggalan itu boleh jadi ia menjadi subordinasi pihak lain, sehingga ruang geraknya menjadi terbatas. Hal ini sangat berbahaya bagi dirinya dan generasi penerusnya. Pada umumnya perempuan dengan stara sosial lebih rendah dan anak-anak seringkali kurang mendapatkan perhatian sehingga mengalami ketertinggalan. Karena itu dalam pengembangan kepribadian perlu memperhatikan kelompok-kelompok marjinal dan subordinal agar sama-sama mendapatkan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat dari aktivitasnya.
    Disaat ini sangat dirasakan pentingnya pendidikan dan alih informasi dan teknologi dari salah satu pihak kepada pihak lain, atau sifat kerjasama yang menjadi ide sentral perubahan suatu masyarakat yang berkembang ke arah saling ketergantungan, karena diyakini tidak satupun masyarakat atau bangsa dapat hidup mandiri memenuhi segala hajat kehidupannya tanpa bantuan pihak lain. Mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri sudah menjadi keharusan supaya suatu bangsa tidak dkuasai oleh pihak lain karena sebuah ketergantungannya. Suatu bangsa hanya menjadi kuat bilamana ia mempunyai ketangguhan dan ketahanan dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga ia dapat berdakwah, menyebarkan informasi dan pendidikan kepada orang lain sesuai dengan pandangan hidup yang diyakini. Fisik yang lemah, pikiran tidak kreatif, dapat disebut sebagai pangkal kelemahan untuk membangun dunia yang berperadaban. Seseorang tidaklah harus menyerah secara total terhadap keadaannya dan menerima apa adanya  tanpa melaksanakan usaha yang mungkin bisa ia lakukan dalam pandangan pikiran yang sehat.
    Kehidupan masa kini umpamanya ditandai dengan semakin canggihnya teknologi dan semakin lengkapnya pemenuhan kebutuhan material, namun belum cukup memberikan makna terhadap kebutuhan rohani sepanjang seesorang belum menemukan makna kehidupan dari berbagai dimensinya dalam dirinya sendiri secar rohani. Seseorang perlu menyelami kedalaman aspek rohaninya supaya ia tidak mengabaikan kebutuhannya yang paling dasar dalam mendapatkan ketentraman ba’tin dan keseimbangan dalam dirinya. Pikiran seseorang pada suatu ketika memerlukan pembebasan dari kesadaran yang terbatas menuju pada kesadaran yang tidak terbatas. Bilamana aktualisasi dan kebutuhan aspek rohaninya tidak terpenuhi sebagai keutuhan dasar, maka sulit diharapkan terwujudnya ketntraman dan kedamaian dalam hidup, yang berarti pula tidak ada keseimbangan antara kondisi pisik dan psikis. Berat sebelah pengembangan antara dua aspek ini menyebabkan disharmoni antara berbagai aspek kepribadiannya yang mengakibatkan terjadinya dehumanisasi dan banyaknya penyimpangan dari kehidupan yang normal. Penyembuhannya tidak dapat dilakukan melalui terapi-terapi aspek pisik semata tetapi memerlukan keterlibatan aspek psikis.
    Menemukan akses yang bisa dipergunakan untuk menemukan diri sendiri secara rohani dan mencari makna kehidupannya bukan sekedar kewajaran, tetapi secara moral sudah menjadi keharusan, agar seseorang tidak terperangkap kedalam kehidupan yang profan.
    Baik fisik maupun psikis membutuhkan pengembangan diri yang berupa pembinaan dan pendidikan agar dapat berkembang optimal dan maksimal sesuai dengan kapasitasnya. Fisik maupun psikis hanya merupakan potensi laten yang mungkin hanya disempurnakan lebih lanjut melalui pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan merupakan kebutuhan yang tidak kalah penting dengan kebutuhan lain, seperti halnya anda membaca modul ini dalam rangka pengembangan diri. Coba anda renungkan perubahan apa yang terjadi pada diri Anda setelah membaca modul ini.
a)    Adakah wawasan atau pengetahuan Anda bertambah?
b)    Adakah perubaha persepsi Anda tentang sesuatu?
c)    Adakah perubahan sikap Anda dalam menghadapi sesuatu?
Aspek fisik mendapatkan pendidikan sedemikian rupa agar dapat berkembang dari lemah menjadi kuat. Pendidika terhadap aspek ini melalui latihan yang ringan sampai yang berat tetapi kontinu, sehingga ia menjadi kuat dan sehat. Kekuatan dan kesehatan menjadi modal untuk menggapai kebutuhan yang lain sebagaimana disebut diatas. Mengasup nutrisi dan memperolehnya sebagaimana disebutkan diatas, memerlukan suatu pengetahuan yang hanya bisa di dapat melalui pendidikan. Orang yang tidak terdidik pemenuhan kebutuhannya sangat bergantung kepada pihak lain, seperti anak bayi yang masih bergantung kepada orangtuanya. Namun semakin ia terdidik, maka ia semakin mahir untuk memenuhi kebutuhannya.
Manusia tidak semata terdiri dari aspek fisik, tetapi ia juga mempunyai aspek psikis. Aspek psikis memegang peran penting dalam kehidupan manusia, sehingga untuk mengetahui wujud manusia dengan hubungannya dengan pendidikan tidak semata dilihat dari aspek materialnya(fisik), tetapi juga dari aspek spiritualnya(psikis). Aktivitasnya sebagai instrumen ba;tin, dengan segala unsur yang melingkupinya, mempunya pengaruh dan memegang kendali terhadap semua aspek jasmaniahnya (fisik). Sebagaimana disebutkan diatas, bahwa aspek rohani yang paling tinggi mempunyai akses ke alam ghaib, maka dari sana ia mendapatkan informasi ghaybiyat yang biasanya ketika seseorang lebih banyak memerhatikan aspek materialnya, maka aspek lainnya terbengkalai. Betapa keringnya kehidupan jika tidak disertai nuansa rohani. Hilangnya citarasa itu berarti lenyapnya kebahagian, barngkali merussakkan kecerdasan intuitif, dan lebih-lebih lagi sangat berbahaya bagi pembinaan   moralitas, karena hal itu melemahkan emosi dan citarasa ba’tin. Oleh karena itu, pembangunan pendidikan aspek rohani tidak harus dikesampingkan, lebih lebih hakikat seseorang pada dasarnya terletak pada aspek rohaniahnya yang bersifat permanen, immortal, dan eksistensinya, sebagai bagian dari perjalananya yang teramat panjang.
Seseorang tidak harus hanya bergelut dengan kehidupan empirik, dengan menekuni dunia luarnya yang senantiasa berubah, tetapi menguak lebih dalam hakikat keberadaannya dan hakikat alam ini sudah menjadi keharusan pula. Hubungan seseorang dengan dunia luarnya tidak bisa dihubungkan dan diukur kebenarannya hanya dengan logika linear, dan dianggap sebagai peristiwa yang berlaku secara melanik, tetapi mungkin saja terjadi peristiwa yang tidak pernah disangka menurut penalaran logis.
Muatan ekuilibrium yang terdapat dalam seluruh pengalaman hidup seseorang, baik laki-laki maupun perempuan dan perbedaan sosial menciba memberikan nuansa pembinaan yang tidak hanya terbatas pada aspek jasmaniahnya saja adalah prinsip-prinsip pendidikan. Strategi pendidikan seharusnya selalu mempertimangkan keseimbangan antara berbagai aspek kepribadian, yaitu pendidikan yang brusaha dan mengupayakan perkembangan secara menyeluruh tetapi seimbang. Pendidikan yang hanya mengarah pada perkembangan suatu aspek saja, tidak lain identik dengan pengajaran. Sebagian orang memang lebih cenderung dan menginginkan pendidikannya tersegmentasi pada aspek material, tetapi tidak perlu menghalangi kesempatan yan mungkin diperoleh seseorang untuk mendapatkan pendidikan secara spiritual, bahkan diperlukan daya upaya untuk menjadikan pendidikan spiritual sebagai gerakan yang populis.
Usaha seseorang meningkatkan martabat yang lebih tinggi secara rohani, tetapi tidak memutuskan hubungannya secara mutlak dengan dunia luarnya, ia akan memperoleh pengetahuan yang subjektif dari pengalaman rohaninya dan pengetahuan yang objektif dari pengalaman empiriknya, srhingga ia dapat mengembangkan penguasaan dunia pada suatu sisi dan mentransendensikannya pada sisi yang lain. Pandangan dan penglihatan seseorang hendaknya diarahkan untuk mencapai makna dan fungsi menangkap sesuatu dialam material, disamping yang bersifat immaterial melalui berbagai tanda yang memenuhi alam raya, karena kemampuan penglihatannya dalam keadaan suci dan primordialnya dapat langsung menangkap visi ilahi. Oleh karena itu, seseorang yang baik adalah aspek fisik dan psikisnya sama-sama peka.
Arah pendidikan seharusnya selalu mempertimbangkan berbagai aspek kepribadian. Dalam kondisi seperti ini pendidikan yang bersifat ekternal dan aksidental (fisik) tidak harus merupakan terminal akhir dalam suatu proses petjalanan karier pendidikan, melainkan perlu dikaitkan dengan pendidikan yang bersifat rohani. Dalam pendidikan yang hanya berorientasi pada sisi eksternal dan formal, ketajaman visi rohani kurang mendapatkan tempat yang wajar dan memadai, kkarena seseorang hanya dipandang dari segi fisik semata. Dari  pendidikan seperti itu tidak mungkin dapat melahirkan nilai etika, sebagai landasan sikap dan perbuatan, dan estetika, sebagai landasan perasaan, dan nilai-nilai lainnya yang terpancar dari dimensi penghayatannya.

Bila esensi seseorang bersifat rohani, maka pendidikan harus dihubungkan dengan hakikatnya itu. Oleh krena itu,seseorang bukan meja lilin yang dapat dibentuk dengan berbagai pengaruh dan stimulus, atau seseorang bukanlah semata mahluk pasif yang menerima bentukan dari lingkungan sebagai mana diperkirakan oleh teori tabularasa, tetapi ia mempunyai kreatifivitas yang memungkinkan mengubah lingkungan sesuai dengan kehendaknya, dan bahkan mencapai sesuatu yang berada diluar kehendaknya. Namun dapat diakui bahwa pembentukan suatu kebiasaan dengan suatu kegiatan mempunyai efek kumulatif, sehingga dapat mendorong terjadinya peningkatan kualitas karakter seseorang yang pengaruhnya lambat laun menjadi semakin kuat dan menyulitkan seseorang untuk melepaskan diri darinya.
Dengan pendidikan yang bisa diperoleh dari berbagai aspek kepribadian, memungkinkan seseorang menerima berbagai akibat pendidikan, sehingga kondisi kemanusiaannya dapat menerima perubahan dan perkembangan sesuai dengan pengaruh yang diterimanya baik lahir maupun ba’tin. Dengan berbagai arah, macam, dan bentuk pendidikan yang diterimanya menyebabkan kualitas kepribadianya di identifikasikan dan berada.
Bila seseorang dengan ragam perbedaan sosial dan perbedaan gender akibat konstruksi sosial dapat menerima pendidikan yang ditujukan kepada arah jasmani dan rohaninya, maka semua aspeknya dapat berkembang sesuai dengan cita-cita pendidikan yang diharapkan. Pendidikan semacam ini yang memungkinkan terciptanya kepribadian yang seimbang, dan semua pengalaman dan pengetahuannya diperoleh dari berbagai aspek kepribadiaannya. Dengan demikian, bukan suatu ilusi bilamana hasil yang mungkin dicapai paling tidak berupa keseimbangan kepribadian yang tidak semata di dominasi oleh salah satu aspek, tetapi merupakan sinergi dari berbagai aspek kepribadian. Betapa sangat dipentingkan dalam tujuan pendidikan adalah seorang yang tidak hanya terampil dan pintar, tetapi juga harus bersikap mulia sebagai hasil keseimbangan antara aspek fisik, psikisnya. Seseorang yang mampu berpikir tentang sesuatu dan berbuat sesuatu haruslah mempergunakannya untuk kebaikan dirinya masyarakatnya, dan bangsanya menuju kehidupan yang lebih mulia dan bermartabat. Hasil lebih jauh adalah kepuasannya dapat mengaktualisasikan dirinya secara penuh sehingga berujung pada kenikmatan dan kebahagiaan. Ingat, setiap yang nikmat itu dicintai, karena ada kecenderungan seseorang untuk mendapatkannya.

                                    BAB III
                                  PENUTUP

3.1    Kesimpulan
    Kesadaran diri dapat dirasakan dan gejalanya dapat dimanifestasikan dalam bentuk sikap dan perbuatan fisik walaupun kesadaran itu bersifat  psikis. Hal demikian menunjukan bahwa masih eksis dan masih hidup. Kehidupan tidak serta merta eksis tanpa fungsi yang berguna dari berbagai organ-organ tubuh. Disfungsi dari semua atau sebagian organ tubuh akan menekan kehidupan sampai tidak hidup lagi.
    Untuk mempertahankan kehidupan diperlukan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup primer. Kebutuhan primer adalah kebutuhan hidup yang tidak boleh tidak, harus ada dan tersedia.bilamana kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka keberlangsungan kehidupan akan terganggu. Kebutuhan primer yang berupa nutrisi, oksigen dan asupan lain sebagainya harus selalu tersedia. Dalam nutrisi yang anda konsumsi terdapat banyak bahan yang dapat menunjang keberlangsungan hidup.




                  DAFTAR PUSTAKA


Ashraf, Ali. 1993. Horison baru pendidikan islam. Terjemahan Sori Siregar, Jakarta: Pustaka Firdaus
Ramayulis, 1994. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam mulia
IAPBE. 2007. Panduan pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan. Buku IV Malang: IAPBE
Barnadib, Imam.1998. Filsafat Pendidikan Sistem dan Metode. Yogyakarta: Andi Offset

Tidak ada komentar:

Posting Komentar